Jumat, 26 Desember 2008

Golok Atau Kujang, Souvenir Cantik Untuk Pajangan

Apa yang terpikirkan
ketika berbicara mengenai
golok, pedang atau
samurai? Tentunya ingatan
akan langsung melayang
kepada pertarungan,perang
atau hal-hal berbau
permusuhan.

Padahal senjata-senjata
ini tak selalu menjadi
alat untuk beradu
kegagahan.Dengan polesan
seni, rasa takut yang mungkin muncul ketika berhadapan dengan
senjata bisa jadi akan berubah menjadi decak kekaguman.

Bagaimana tidak, senjata-senjata tersebut dibalut dengan
sarung-sarung yang diukir dengan terampil. Karakter
pahatan yang apik pun tercipta melalui kayu rasamala.

Bagian dalam senjata yang terbuat dari besi pun tak ketinggalan
dari sentuhan daya tarik ukiran. Penambahan ornamen-ornamen
seperti tanduk kerbau dan tulang kerbau di bagian gagang atau
noktah-noktah batuan berkilau untuk menyempurnkannya. Tangan pun
akan lebih tertarik untuk mengelus dari padamenghunus.

Di Galeri Ridho Asih yang terletak di Kampung Sukamanah, RT 03
RW 03 Desa Mekarjaya Kecamatan Pasir Jambu Ciwidey senjata-
senjata ini memang disiapkan
sebagai souvenir.

Senjata-senjata yaang berukuran antara 20 centimeter hingga
2,75 meter ini menjadi senjata eksklusif yang khusus dibuat
untuk para wisatawan.

Tak hanya sebatas golok, pedang, atau samurai, senjata-senjata
lain pun bisaditemukan, seperti karambit, belati, keris, sangkur,
atau senjata tradisional Jabar kujang.

Desain-desain seperti gambar naga, tokoh wayang, atau gambar
hewan membuat senjata ini lebih pantas menghiasi salah satu
pojok rumah. Desain yang banyak dibuat adalah ukiran naga karena
pembelinya lebih banyak berasal dari etnis Tionghoa.

Menurut Pengelola Ridho Asih, Dedi Suarna (31), selain senjata
-senjata eksklusif, dirinya paling banyak memproduksi senjata-
senjata biasa tanpaukiran yang artistik.

"Golok biasa kami kirimkan ke pasar-pasar tradisional atau
ke pedagang keliling. Sedangkan untuk yang eksklusif kami
kirimkan salah satunya ke tempat tempat wisata termasuk
Tangkuban Perahu," tutur Dedi ditemui dalam sebuah pameran di
Bandung beberapa waktu lalu. Dedi menyebutkan,kerajinan-
kerajinan tersebut dikirim ke Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera,
juga Jakarta.

Namun pembuatan senjata hias eksklusif ini dilakukan jika ada
pesanan. Dedi mengakui dalam satu bulan memproduksi senjata
eksklusif sebanyak 100 buah sedangkan senjata pasar bisa mencapai
500 buah. Dalam proses pembuatannya,untuk satu senjata hias
bisa menghabiskan waktu sekitar satu minggu. Untuk harga dimulai
dari golok biasa Rp 17.500 sampai yang eksklusif Rp 850 ribu.

Menurut Dedi, selain dirinya, penduduk lainnya sebanyak 144 KK
di Kampung Sukamahi juga menggantungkan hidupnya dari usaha
golok baik yang hias maupun pasar. Meskipun kebanyakan membuat
golok-golok untuk pasar-pasar tradisional. Tempat yang dikenal
sebagai sentra golok hias ini ternyata kerap dikunjungi
wisatawan asing sebelum meledaknya peristiwa bom Bali.

"Jika biasanya turis datang hampir setiap hari sekarang makin
langka itu pun jika ada paket kunjungan wisata yang biasa
diadakan hotel," ujar Dedi. Hal ini tentu saja diakuinya
menurunkan omzet hingga 50 persen.

Di kawasan Kampung Sukamanah ini, bisa dilihat wisata workshop
pembuatan golok. Usaha yang termasuk ke dalam home industry
ini diakui Dedi kesulitan dari segi pemasaran. Jika pemasaran
bagus permodalan yang tidak bagus,begitu pula sebaliknya. Maka
salah satu cara yaitu dengan melakukan promosi di pameran-
pameran UKM yang diadakan pemerintah.

Jika anda tertarik untuk melihat dan mengunjungi sentra wisata
ini dari Pasar Ciwidey belok ke kanan sampai menemui pangkalan
andong lalu berjalan lurus sejauh 1 kilometer menuju Kampung
Sukamanah.

Pasar Ciwidey Sediakan Oleh-oleh Bandrek dan Kalua


PASAR Ciwidey merupakan salah satu pasar tradisional terbesar yang ada di Kabupaten Bandung. Betapa tidak, pasar yang berlokasi di Jln. Cibeureum Desa Ciwidey, Kec. Ciwidey, Kab. Bandung ini memiliki luas tanah dan bangunan sekitar 36.286 meter persegi. Bangunan pasar ini tampak cukup megah dan luas.
Tak hanya itu, letak pasar ini juga berdekatan dengan Terminal Ciwidey sehingga sarana transportasi untuk menjangkau pasar ini sangat banyak, termasuk ojek dan delman, selain angkutan umum. Maka tidak heran kalau pasar ini sangat ramai pengunjung.

Pengunjung yang datang ke pasar ini bukan hanya penduduk sekitar pasar, tetapi juga para pekerja kebun teh yang ada di daerah perkebunan sekitar Kecamatan Ciwidey, Pasirjambu, dan Rancabali. Jika tanggal muda tiba, pasar ini akan dipenuhi para pekerja kebun teh yang sengaja turun untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Pengunjung yang datang juga banyak dari daerah perbatasan Cianjur. Pasalnya jarak ke Pasar Ciwidey (60 km) lebih dekat daripada ke Pasar Cianjur (120 km).

Menurut H. Nana, salah seorang pedagang kue dan kalua, jika tanggal muda, banyak pekerja kebun teh yang berdata-ngan ke Pasar Ciwidey sehingga pasar ini akan lebih ramai dari biasanya. Selain tanggal muda, Sabtu dan Minggu juga banyak pengunjung yang datang.

Plt. UPTD Pasar Ciwidey, Wiwin Supriatin Jumat (25/1) mengatakan, Pasar Ciwidey bisa disebut sebagai salah satu pasar yang menunjang objek wisata daerah Bandung Selatan, seperti objek wisata Kawah Putih, Situ Patengang, Cimanggu, Rancaupas, dan objek wisata lainnya.

Pasar Ciwidey memiliki komoditas yang sangat lengkap, mulai dari sayuran, daging, sandang serta kebutuhan pokok lainnya. Yang paling khas, adalah kalua dan bandrek yang merupakan makanan khas Bandung Selatan. Jika ada pengunjung, baik yang akan pergi ke objek wisata maupun yang pulang dari objek wisata, bisa membeli oleh-oleh khas Bandung Selatan. Pasar Ciwidey memiliki kios dan lapak keseluruhan mencapai 1264 buah yang terdiri atas 999 kios dan 265 lapak.

Pesona Alam Ciwidey Saat Musim Penghujan


Oleh Muhamad Yusuf

Bandung (ANTARA News) - Keindahan Kota Bandung dan pesona alam banyak daerah di wilayah Priayangan tampaknya tidak pernah tenggelam kendati di saat musim penghujan memasuki akhir tahun seperti sepanjang November 2008, seperti Ciwidey sebuah kawasan yang banyak memiliki objek wisata alam tetap menarik dan bahkan memiliki pesona lain yang bisa dilihat pada musim penghujan.

Dari banyak objek wisata di Ciwidey, sekitar 40 kilometer selatan Kota Bandung yang sekarang masuk wilayah Kabupaten Bandung, Jawa Barat, pada bagian paling atas pendakian terdapat Situ Patenggang berupa danau di sisi bukit kebun teh menyediakan perahu untuk pengunjung yang ingin berkeliling situ dengan air tenang dan bening. Para pengunjung hanya beberapa saat mendayung perahu seolah sudah "tertelan" kabut embun yang hanya ada pada saat musim penghujan.

Setiap orang pengunjung yang ingin berkeliling naik perahu cukup membayar Rp15 ribu dengan bersama pengunjung lainnya bisa melihat pemandangan di dasar Situ Patenggang yang berhawa sejuk sambil menikmati minuman khas bandrek penghangat tubuh.

Pada dataran tinggi Situ Patenggang terdapat villa yang bisa disewa untuk rombongan yang perlu menginap dari tarif Rp800 ribu/malam dengan tiga kamar, sebuah villa pada bagian atas hanya Rp400 ribu/malam juga dengan tiga kamar, dan villa lainnya.

Menurut pengelola villa di kawasan tersebut, sudah banyak orang dari Jakarta, Bandung dan kota lainnya di Indonesia yang menjajaki untuk sewa villa menghabiskan hari libur akhir tahun.

Seorang wartawan senior di Bandung, Her Suganda dalam buku "Jendela Bandung, Pengalaman Bersama Kompas" bercerita banyak tentang keindahan Pariangan, termasuk petunjuk mendatangi kawasan Ciwidey.

Untuk menjangkau kawasan wisata Ciwidey bisa melewati pintu tol Kopo, Sayati, Soreang.


Pesona lainnya

Selain Gunung Patuha, Ciwidey memiliki beberapa tempat yang selama ini banyak dikunjungi wisatawan berupa Perkebunan Teh Gambung, Punceking, Perkebunan Teh Patuha, Pemandian Air Panas Cimanggu, Wanawisata Ranca Upas, Agrowisata Walini dan Rancasuni.

Perkebunan Teh Gambung terletak pada ruas jalan Soreang-Ciwidey kemudian memasuki jalan menuju Balai Penelitian Teh dan Kina (BPTK) Gambung. Di tempat ini terdapat makam Ir. Rudolf Kerkhoven, salah seorang pionir Preanger Planters.

Adapun Punceling merupakan wanawisata seluas tiga hektare, berupa hutan alam dan hutan Eucalypus yang biasa dijadikan tempat kegiatan wisata lintas alam dan sumber air panas. Letaknya tidak jauh dari Kawah Putih.

Perkebunan Teh Patuha bisa ditempuh dengan jalan kaki selama kurang lebih satu jam dari Kawah Putih. Udaranya sejuk dengan pemandangan indah. Selain bisa melihat Kawas Saat di Gunung Patuha, dari perkebunan ini bisa terlihat keindahan Situ Patenggang.

Pemandian air panas Cimanggu, dibangun diatas lahan lima hektare pada tahun 1987 dan merupakan pemandian air panas yang dilengkapi dengan kolam pemandian terbuka, kamar-kamar pemandian tertutup, dan villa.

Wanawisata Ranca Upas, merupakan wanawisata yang dibangun di atas lahan seluas 14,5 hektare. Sekitar 10 Ha di antaranya merupakan hutan biasa yang dimanfaatkan untuk lintas alam dan lapangan terbuka untuk berkemah, 4,5 Ha tempat penangkaran rusa (Cervus timorensis).

Melalui shelter yang dibangun pada pintu masuk, pengunjung bisa menikmati sepuas-puasnya perilaku rusa dan rusa bisa dipanggil melalui lengkingan suara pawang.

Agrowisata Walini dan Rancasuni, selain merupakan perkebunan teh, agrowisata ini memiliki fasilitas kolam renang air panas, villa, dan cottage.

Adapun makanan khas Ciwidey berupa kalua dan sonco dengan bahan baku dari kulit jeruk bali yang kemudian dicampur gula dan diberi zat pewarna agar menarik. Selin itu juga ada minuman khas bandrek banyak dijajakan di kios-kios yang terdapat di kiri-kanan jalan tidak jauh dari Pasar Ciwidey.


Cukup aman

Pesona lain dari Ciwidey berupa buah stroberi segar dengan cara memetik sendiri dari kebun, banyak ditawarkan para petani di sepanjang jalan Desa Alam Endah, ada juga dijadikan dodol yang dikemas dalam dus kecil.

Objek wisata alam di kawasan Ciwidey tampaknya cukup aman untuk dikunjungi pada musim penghujan karena kondisi jalan yang relatif stabil, berbeda objek wisata alam lainnya di Jawa Barat yang cukup rawan dikunjung pada musim penghujan seperti kawasan sekitar Gunung Galunggung di wilayah Tasiklamaya. Pada saat musim penghujan jalan licin dan ancaman bahaya longsor.

Menurut Kasubdin Kesenian Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawab Barat Drs. Wawan Irawan , kalau tetap mau dan memaksakan diri datang ke kawasan Gunung Galunggung, datanglah selagi hari masih pagi agar dapat merayapi Kota Tasikmalaya yang masih berselimutkan kabut.

Udara dingin tidak membuat cepat letih menapaki anak tangga. (*)